- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/01/cara-mengganti-icon-kursor-blog-dengan.html#sthash.s5C83OUE.dpuf

Pages

Kamis, 25 Desember 2014

Harga setetes darah


             Rabu 8 januari 2014, Hari ini langit sangat bersahabat denganku. Seperti biasa pagi hari keluargaku sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aku dan ibu menyibukkan diri didapur, kakak dan adikku bergegas untuk pergi menimbah ilmu, sedang ayahku sudah pergi mencari penghidupan. Sejak awal januari aku sudah libur semester,  tapi kegiatan diluar ga ada liburnya. Om ku pernah bilang kalau aku hanya menyibukkan diri saja agar aku lupa dengan dia.

Jam menunjukkan pukul 05.45, aku dan ibuku masih sibuk didapur sambil berbincang. Tiba-tiba saja pembicaraan kami mengarah pada sebuah kabar buruk yg sedang menimpa saudara jauhku. 2 hari yang lalu saudaraku mengalami pendarahan pasca operasi melahirkan. Dia dirujuk dirumah sakit daerah di Surabaya. Kondisinya kritis karena darah yang dikeluarkan sangat banyak sedang persediaan darah yang dibutuhkan sama sekali belum ada. Sontak aku bertanya pada ibuku “bu apa golongan darahnya?”. Ibuku menjawab ”katanya sih A positif”. Tiba-tiba saja dalam pikiranku terlintas nama sahabatku yang tinggal diasrama dekat rumah sakit itu. Seingatku golongan darah sahabatku juga A +, segera aku mengirimkan pesan singkat padanya untuk memastikan golongan darah dan kesediaannya untuk mendonorkan darahnya.
Tak lama dia menjawab pesan singkatku, dan dia bersedia mendonorkan darahnya. Padahal hari itu dia sedang ada perkuliahan dari pagi hingga sore. Tanpa pikir panjang aku segera bersiap dan meluncur ke asrama tempat sahabatku tinggal. Dalam hatiku aku berdoa kepada tuhanku “ Ya ALLAH niat hamba baik, lancarkan urusan hamba hari ini, buat jalanan gak macet dan ga ada operasi sim. Dan doa yang terakhir semoga darah sahabatku bisa diambil agar bisa menolong saudaraku”.
Pukul 07.00 aku sampai didepan asrama sahabatku. Tanpa menunggu, aku dan sahabatku bergegas menuju PMI untuk menanyakan bagaimana cara mendonorkan darah langsung untuk pasien yang sedang membutuhkan. Al hasil PMI itu hanya menangani bencana alam dan tidak tahu menahu tentang hal tersebut. Kami pun segera menuju rumah sakit untuk bertemu dengan keluarga pasien. Disana hanya ada wanita yang sudah sepuh sedang menunggu di depan IRD. Kami pun bertanya tentang keadaan pasien. Mendengar cerita ibu itu hatiku mulai menagis. Hb sudah menunjukkan angka 5, kata dokter itu sangat berbahaya.
Seperti anak kecil yang kehilangan ibunya ditengah keramaian, aku dan kak fe (panggilan sahabatku) bingung dan panik apa yang harus dilakukan. Berlarian kesana kemari untuk mencari informasi tentang pendonoran darah. 3 jam lebih mondar-mandir tetapi tak ada hasil. Hanya ada kepastian bahwa donor darah bisa dilakukan tetapi harus membawa surat rujukan untuk membooking darah milik sahabatku. Namun sialnya, surat-surat itu terbawa oleh suami pasien yang sedang pergi mengurus jaminan kesehatan dan Hp dalam keadaan mati. Tak tahu harus mencari kemana, hanya bisa menunggu. Sambil menunggu suami pasien, aku, kak fe, dan keluarga duduk diruang tunggu. Dengan tangisan yang mengharu biru, keluarga pasien menceritakan kebaikan dan keadaan pasien yang mengkhawatirkan.
Tak lama kemudian, suami pasien tiba dengan membawa berita bahwa kata dokter darah sudah ada. Bergegas laki-laki itu berjalan cepat menuju ruang pengambilan darah. Aku dan kak fe menunggu diruang donor darah sambil mendonorkan darah. Tapi sayangnya hanya kak fe yang bisa menyumbangkan darahnya. Setelah mendonorkan darah, kami pun menuju keruang pengambilan darah untuk menemui keluarga pasien. Tiba-tiba berita mengejutkan datang, ternyata persediaan darah yang ada adalah golongan O, sedang yang dibutuhkan A. semakin bingung dan tak paham tentang dunia kesehatan, kami pun mencoba menanyakan ulang golongan darah apa yang dibutuhkan pasien. Petugas rumah sakit menyuruh kami menunggu kehadiran dokter yang menangani pasien, karena dokter itu yang merekomendasikan pasien untuk diberi golongan darah O, sedangkan golongan darah pasien adalah A.
Kami hanya bisa pasrah dan berdoa. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 1 siang, kak fe harus kembali ke asrama. Aku dan kak fe sebenarnya tak ingin meninggalkan mereka yang masih menunggu kabar dari dokter. Tapi mau bagaimana lagi, dengan berat hati kami berpamitan dan mendoakan semoga pasien segera sembuh dan mendapat pertolongan dari Allah secepatnya.
Pelajaran hari ini benar-benar sangat berharga. Untuk kali pertama aku mengendarai sepeda motor sendirian ke daerah Surabaya yang tak dekat dengan rumahku. Untuk pertama kalinya pula aku pergi ke PMI dan RSUD. Di RSUD banyak sekali kejadian yang membuat aku sadar betapa berharganya setetes darah, betapa hebatnya perjuangan ibu melahirkan anaknya, dan betapa tulusnya kasih sayang ibu yang sudah renta kepada anaknya. Dan yang terpenting, betapa berharganya seorang sahabat, karena ia mau menemani kita dalam suka maupun duka. Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah kita J.

0 komentar:

Posting Komentar